Monday, February 6, 2017

Ruang Jingga #1000tumblers4lpg: MI Islamiyah Pahmungan (3 of 3)

Oleh Delta Rahwanda

Sebagian relawan gelaran ke-9
                   Banyak penelitian menyebutkan bahwa sampah plastik merupakan salah satu sampah yang paling berbahaya dan sangat sulit terurai. Membutuhkan minimal 500 tahun untuk dapat terurai dan bercampur dengan tanah. Bahkan di samudra Pasifik, sampah plastik dari segala penjuru dunia terkumpul karena arus pusaran air sehingga membentuk pulau-pulau dari sampah. Tentu saja banyak hewan seperti anjing laut, ikan, burung, penyu dan lain-lain mati terbunuh karena memakan beberapa sampah yang mereka kira makanan. Telah banyak ditemukan bangkai burung yang telah membusuk namun sampah plastik masih tetap utuh di antara tulang belulang burung.

          Dengan menggunakan tumbler tentu saja merupakan sebuah solusi aktif namun sederhana. Karena sederhana cara ini seringkali dilupakan oleh kita. Dengan selalu membawa tumbler kemanapun kita bepergian, secara tidak langsung kita telah mengurangi sampah plastik yang biasanya kita buang setelah membeli air minum kemasan. Sampah-sampah tersebut akan menumpuk dan terus menumpuk jika setiap orang melakukan hal yang sama. Maka menggunakan tumbler setiap kita keluar rumah adalah cara efektif untuk mengurangi sampah botol plastik.

              Puppet show sebagai identitas gelaran
          Setiap kali gelaran, informasi di atas menjadi materi wajib yang kami sampaikan. Banyak sekali informasi yang dibagikan kepada siswa siswi yang kami kunjungi dengan harapan mereka dapat melakukannya dan menyebarkannya kepada kawan, saudara bahkan orang tua mereka. Puppet show sendiri merupakan langkah yang kami lakukan agar pesan yang diberikan akan mudah diterima oleh anak-anak. Puppet show ini diperankan oleh para relawan dengan menggunakan media boneka tangan dengan sebuah alur cerita mengenai sampah yang menjadi masalah di sebuah desa. Tokoh utama pada cerita adalah Tucil dan Yooman.

          Semua yang ada di ruangan menjadi hening ketika kami menyanyikan lagu pembuka puppet show di gelaran ke-9 ini. Semua mata tertuju pada layar kecil yang ada di depan mereka. Perlahan tokoh Tucil muncul dari balik layar. Suara riuh anak-anak terdengar dari balik layar ketika ada sesi lucu dimana pak RT mengejar Yooman dan Tucil karena telah membuang sampah sembarangan. Namun pak RT menyerah karena kehabisan napas. Inti dari ceritanya adalah penyesalan dua tokoh utama ini karena telah membuang sampah di sungai yang kemudian mengerti dan sadar bahwa perbuatan mereka adalah salah. Di akhir cerita juga dijelaskan mengenai logo-logo pada plastik. Semua siswa kompak memeriksa botol mereka ketika ada perintah dari salah satu tokoh pada puppet show. Sedetik kemudian, para siswa dan siswi menyadari bahwa botol minum yang mereka miliki tidaklah boleh dipakai berulang-ulang. Terakhir, menyanyikan lagu Gajah Kupu-Kupu menjadi penutup puppet show kali ini.

Puppet show sebagai identitas

             Ucapan terimakasih

          Ruang Jingga bukanlah apa-apa tanpa adanya para pengurus yang senantiasa mengorbankan waktu dan energi untuk menyelenggarakan setiap gelaran. Ruang Jingga hanya sebuah nama jika tanpa para relawan yang dengan setia mengikuti setiap gelaran yang ada. Dan Ruang Jingga hanyalah media perantara dari para donatur yang ingin berbagi kebahagiaan. Kami sampaikan terimaksih tanpa batas kepada semua yang telah terlibat hingga gelaran ke-9 ini. Hanya kata terimakasih yang dapat kami sampaikan dan semoga Allah SWT memberi rezeki yang lebih besar bagi para donatur, relawan juga pengurus. Akhir kata “Happines is real when shared”

Jabat tangan sebelum pulang

Ruang Jingga #1000tumblers4lpg: MI Islamiyah Pahmungan (2 of 3)

Oleh Delta Rahwanda

Kak Habi sedang meminpin sebuah permainan

Tepat pukul 06.00 seluruh relawan telah berkumpul di meeting point dengan pakaian putih. Semua perlengkapan sudah dipersiapkan sejak sehari sebelumnya. Wajah-wajah ceria yang sudah tidak sabar menuju MI Islamiyah Pahmungan segera masuk ke dalam 5 mobil yang telah kami siapkan. Berjalan konvoy menuju lokasi merupakan kesepakatan bersama karena khawatir terpisah dengan yang lainnya. Apalagi di sana tidak ada sinyal handphone sama sekali. Lebih cepat dari perkiraan ternyata kami sampai 30 menit lebih awal. Saya terpana dengan kondisi sekolah yang terbuat dari papan dan tepat bersebelahan dengan kandang kambing. Memiliki 6 ruangan kelas, 5 ruangan untuk kelas 1, 2, 3, 4 dan 5 dan 1 lagi digunakan untuk ruangan guru. Memiliki jumlah murid sebanyak 81 siswa dan 9 guru yang masih berstatus guru honor sejak belasan tahun silam. Meski berstatus honor dan tidak bergaji secara rutin, para guru ikhlas menjalankan kewajiban mereka untuk mendidik para siswa dan siswi MI Pahmungan. Sekolah ini terletak di antara rumah warga yaang kondisinya tidak jauh berbeda dengan konsisi sekolah. Tidak jauh dari bangunan sekolah, terdapat sebuah masjid milik desa yang biasa digunakan untuk shalat dzuhur berjamaah sebelum para siswa-siswi pulang ke rumah.

Turut berpartisipasi Muli Mekhanai kota Bandar Lampung
Setelah sesi icebreaking dilakukan selama 30 menit, para siswa kami arahkan menuju ruangan kelas. Icebreaking dilakukan agar antara siswa dan relawan bisa saling mengenal lebih dekat. Di dalam kelas para siswa telah siap mendengarkan dongeng mengenai sampah plastik. Puppet show dilakukan kurang lebih selama 30 menit dengan setting yang telah dipasang ketika sesi icebreaking. Kemudian disusul sesi review yaitu sesi dimana penjelasan mengenai fakta plastik baik manfaat dan bahayanya, logo-logo pada plastik dan manfaat tumbler. Sesi review juga spesial karena kami mengajak sepasang Muli Mekhanai kota Bandar Lampung. Mereka terlihat kompak dalam menjelaskan materi di depan para siswa. Dengan detail mereka menjabarkan melalui media gambar yang telah kami persiapkan. Tidak hanya berdua, namun mereka juga ditemani oleh mbak Desti yang juga alumni Muli Mekhanai Kota Bandar Lampung.

Muli Mekhanai sedang menjelaskan tentang fakta plastik

Memotivasi melalui profesi
Acara yang dilakukan pada setiap gelaran tidak lepas dari sesi motivasi melalui profesi. Ruang Jingga selalu mengundang para pemuda yang memiliki profesi yang unik dan dapat menginspirasi anak-anak sekolah dasar. Pada gelaran ke-9 ini kami mengajak Mbak Gemma yang berprofesi sebagai dokter gigi, mbak Intan yang memiliki pekerjaan sebagai photographer dan mas Indra dengan aktifitas menulis di blog sebagai travel blogger. Drg. Gemma penuh semangat menjelaskan bagaimana menyikat gigi yang baik dan benar. Dua orang siswa diundang ke depan untuk mempraktekkan langsung. Dia juga membawa beberapa alat untuk memeriksa gigi seperti cermin kecil bergagang yang fungsinya untuk melihat kondisi gigi pasien. Giliran mbak Intan juga mengundang dua siswa maju ke depan untuk menjadi model dan menjadi photographer. Sesekali terdengar riuh tawa para siswa karena sang model dadakan tersipu malu enggan berlenggok dan sang photographer tampak kebingungan dengan kamera barunya. Sesi motivasi ditutup oleh mas Indra yang berprofesi sebagai travel blogger. Dia menjelaskan bagaimana caranya menjadi seorang menulis dan menuangkkannya di dalam blog. “Selain menulis, kita juga harus bisa memfoto yang benar dan bagus” jelasnya. Di akhir penjelasannya, ms Indra mengajak anak-anak untuk menyanyikan lagu bersama-sama. Ini adalah momen paling riuh yang saya dapatkan. Semua siswa bernyanyi sambil mengikuti gerakan mas Indra.


Kak Indra dan Kak Intanmenjelaskan profesi mereka


 Bersambung...

Ruang Jingga #1000tumblers4lpg: MI Islamiyah Pahmungan (1 of 3)

Oleh Delta Rahwanda


 Gelaran kali ini telah kami persiapkan cukup lama yaitu sejak 2 bulan yang lalu lantaran bulan Desember 2015 dan Januari 2017 adalah waktu peralihan dari semester ganjil ke genap. Maka tanggal 4 Februari kami anggap tanggal yang tepat untuk mengawali gelaran pertama di tahun 2017 dan merupakan gelaran ke-9 sejak tahun 2015. Survey telah dilakukan pada bulan Januari 2017 oleh beberapa pengurus Ruang Jingga yaitu Mas Tri, Mas Andreas dan Mbak Mamik. Awalnya info sekolah tersebut kami dapat dari internet. Artikel tersebut menyebutkan bahwa kondisi MI Islamiyah tergolong memprihatinkan dengan kondisi sekolah terbuat dari papan dan tidak pernah direnovasi sejak tahun 1983. Hal ini menjadi salah satu alasan kenapa kami memilih MI tersebut untuk gelaran #1000tumblers4lpg yang ke-9.

Persiapan sedikit demi sedikit kami lakukan mulai dari berkoordinasi dengan seluruh pengurus, memilih tanggal gelaran dan mencari calon donatur yang bersedia membantu menjadi bahasan utama kami. Info gelaran kemudian kami bagikan di akun sosial media IG: @ruangjinggalpg dan Timeline: Ruang Jingga dan ternyata banyak pihak yang antusias untuk membantu. Beberapa berasal dari Lampung dan sebagian berasal dari luar Lampung seperti Jakarta. Donatur dari Jakarta misalnya, mereka siap membantu alat pembelajaran, alat peraga, cat, tas sekolah dan lain-lain. Hal ini sangat membuat kami terkesan dengan semangat para donatur apalagi ketika mereka menyampaikan bahwa berniat datang langsung ke lokasi sekolah.

Berkolaborasi dengan Robby Purba
Seperti kita ketahui bersama, Robby Purba merupakan salah satu actor dan host nasional yang berasal dari Lampung. Tentu saja Robby sapaan akrabnya memiliki hubungan emosional yang kuat dengan kota kelahirannya. Robby memutuskan untuk ikut gelaran ke-9 ini yang merupakan gelaran ke dua yang pernah diikutinya. Sebelumnya Robby pernah mengikuti gelaran ke-7 di MI Darul Falah, Teluk Betung, Bandar Lampung. (di sini) Di tengah kesibukannya menjadi host acara pencarian bakat, Robby sangat antusias mengikuti gelaran ini. Ada sesi khusus dimana Robby memberikan motivasi kepada siswa-siswi MI Islamiyah Pahmungan. Di awal acara Robby juga asyik berbaur dengan para relawan dan siswa-siswi ketika sesi ice breaking di halaman sekolah.

Robby Purba ketika sesi Icebreaking

Misi Pembagian TUMBLER
Seperti sebelumnya, gelaran kali ini tetap fokus pada pembagian botol minum layak pakai dengan tujuan mengganti botol minum yang tidak layak pakai. Hampir semua siswa-siswi MI Islamiyah Pahmungan, Kedondong, Pesawaran membawa botol minum ketika datang ke sekolah. Namun yang sangat memprihatinkan adalah botol minum yang mereka bawa merupakan botol yang tidak layak dan tidak boleh dipakai berulang-ulang. Botol seperti ini memiliki ciri memiliki gambar segitiga dengan tulisan satu di dalamnya, berbahan tipis dan transparan. Berdasarkan ciri-ciri tersebut maka botol plastik ini hanya boleh dipakai sekali saja karena kandungan BPA pada plastik mudah larut di dalam air, apalagi air hangat dan panas. Jika di pakai dengan rentan waktu yang lama maka air yang diminum akan menyebabkan beberapa penyakit seperti kanker, penurunan kemampuan berfikir, lemah syahwat dll. Tentu saja hal tersebut sangat tidak kita harapkan. Maka dari itu komunitas Ruang Jingga berusaha keras mengganti botol minum mereka denganbotol minumyang layak pakai dan dapat di apakai berulang-ulang dengan jangka waktu yang lama. Botol berkualitas baik memiliki ciri-ciri memiliki gambar segitiga dengan angka 5 di tengahnya, berbahan tebal dan tidak bau. Botol plastik seperi ini juga tahan terhadap air panas dan dingin.

Masih terekam di memori saya kebahagiaan mereka ketika menerima botol minum baru dari kami. Keceriaan khas anak-anak menyebar di ruangan kelas. Satu persatu antri menunggu giliran menukar botol minum lama mereka dengan botol yang baru. Kakak-kakak relawanjuga sibuk mempersiapkan tumbler untuk adik-adik MI Islamiyah Pahmungan. Kebahagiaan bertemu dan menyapa pada momen ini. 

Bersambung....

Siswa-siswi bersalaman sebelum pulang
Salah satu momen pembagian tumbler



Friday, January 27, 2017

MIS Al Hikmah, Datar Lebuay, Air Naningan, Tanggamus


Oleh Delta Rahwanda

Siswa-siswi MIS Al Hikmah

Beberapa bulan yang lalu saya pernah hendak mengunjungi sekolah ini namun saya “lupa” membawa nyali kala itu barangkali karena kondisi jalan melebihi batas keberanian saya. Akhirnya saya putuskan putar arah.

Sejak 3 hari sebelum rencana kedua, saya telah membulatkan tekad untuk kesana meski dengan kodisi jalan terburuk. Pukul 06.00 saya berangkat bersama sebuah komunitas sosial menuju MIS Al Hikmah, di kecamatan Air Naningan. Perjalanan lancar didukung cuaca yang cerah membuat hati sangat yakin jalan tanah menuju ke sana juga kering. Beberapa kali kami berhenti untuk membeli bensin dan makanan ringan hingga akhirnya sampai juga di ujung aspal desa. Betapa terkejutnya saya dan kawan-kawan karena jalan tanah yang ada di depan kami ternyata sangat “menakutkan”. Hampir semua motor yang melintas menggunakan rantai pada rodanya dan 3 kali saya melihat pengendara motor terpeleset meski telah menggunakan rantai. “Semalam hujan deras” kata salah satu warga yang melintas. Hampir saja kami memutuskan untuk jalan kaki namun dengan memakan waktu 3 jam yang seharusnya hanya 45 menit mengggunakan motor. “Dinikmati saja” ujar saya dalam hati sembari menghibur diri. Mengurangi udara pada ban depan dan belakang kami lakukan atas saran dari warga.

Jembatan Kuning

Perlahan-lahan sambil deg-degan kami melaju motor. Beberapa kali saya memfoto motor melintas yang penuh tanah. Dua kilometer terlewati kemudian kami harus melewati sebuah jembatan gantung sepanjang 100 meter. Sejenak beristirahat sambil menunggu yang lain di ujung jembatan. Tepat pukul 10.00 kami sampai di sekolah yang kami tuju yaitu MIS Al Hikmah, Datar Lebuay, Air Naningan, Tanggamus. Motor penuh dengan tanah, celana telah berubah warna dan sepatu hampir tak terlihat lagi seperti sepatu.



MI Al Hikmah ini terletak di sebuah tanah wakaf di atas bukit kecil sejak tahun 1995 namun sudah berdiri sejak tahun 1980. “Kita sudah pindah 3 kali” kata salah satu guru. Terdapat dua bangunan utama untuk kelas yang terbuat dari papan dan sebuah bangunan kecil untuk ruang guru. Sekolah ini adalah satu-satunya MI di desa Datar Lebuay. Tenaga pendidik berjumlah 9 orang yang semuanya hanya lulusan sederajat SMA dan masih berstatus honor. Dipimpin oleh seorang kepala sekolah bernama Bapak Khuwailid yang tampaknya paling muda diantara bapak guru lainnya. “Siswa di sini jumlahnya 53 orang” kata kepala sekolah kepada saya. Sekolah ini dikelilingi oleh kebun kopi milik warga sekitar dan tidak memiliki kamar mandi. Jadi jika siswa hendak buang air kecil atau BAB harus berjalan kaki terlebih dahulu selama 15 menit menuju surau terdekat. Ada sebuah kebiasaan unik di sekolah ini yaitu ketika ada pesawat terbang melintas maka semua siswa akan keluar dan bersorak sorai kegirangan. “Pasti pada lari keluar semua” kata pak Khuwailid.

Pak Khuwailid

Sedikit penjelasan di atas barangkali cukup untuk menggambarkan seberapa pelosok dan memprihatinkan sekolah ini. Sengaja saya menulis mengenai MIS Al Hikmah tak lain adalah untuk mengenalkan sekolah ini kepada khalayak yang lebih luas dan barangkali ada donatur atau komunitas yang hendak membantu mereka. Di tengah keterbatasan ilmu, para guru tidak pernah berkecil hati membimbing para siswa-siswi di sana. Mereka selalu bersemangat meski seringkali tidak bergaji. Kesederhanaan adalah kesan pertama yang saya bingkai dari mereka.

Harapan:

1.    Pihak sekolah mengharapkan dapat merelokasi sekolah ke tempat yang lebih datar yaitu dekat dengan pedesaan. Harga tanah pekarangan di sana sekitar 25 juta. Ada sebuah sawah yang hendak dijual seluas 1 hektar dengan harga 150 juta.
2.     Saat ini sekolah sedang mengumpulkan dana sebesar 7 juta rupiah untuk mengurus berkas-berkas yang diminta dari pusat.
3.      Mengharapkan dibangunnya kamar mandi di dekat banguan sekolah.