Sunday, January 1, 2017

Melihat Sejarahmu untuk Masa Depanmu

Oleh: Delta Rahwanda

Gegap gempita tahun baru masehi telah kita lewati. Pedagang terompet dan kembang api musiman bermunculan di mana-mana untuk menuai rejeki tahunan. Berbagai macam kembang api dan suara terompet menjadi begitu akrab beberapa hari ini. Tempat hiburan dan lokasi wisata berlomba-lomba menarik simpati agar para tamu bersedia menyambut tahun baru bersama-sama. Tanggal 31 Desember 2016 tepat pukul 12 malam telah dinanti oleh ribuan manusia. Akhirnya pukul 12 malam lebih 1 detik terdengar sirine panjang pergantian tahun dan disusul dengan suara terompet juga dihiasi dengan letusan-letusan indah berbagai macam bentuk kembang api. Semarak tahun baru masehi tidak hanya terjadi di lingkungan kita saja namun juga terjadi di berbagai belahan dunia. Channel televisi berlomba-lomba menyiarkan berita tentang pesta tahun baru di seluruh negara. Para pemuda-pemudi berbaur menjadi satu hanya untuk menyambut momen yang dianggap penting oleh mereka bahkan tanpa melihat waktu dan etika.
Kita bersama mengetahui bahwa kali ini “dua tahun baru” menyambut hampir bersamaan hanya berselisih 2 minggu yaitu tahun baru hijriyah dan tahun baru masehi. Keduanya tepat jatuh pada hari yang sama yaitu hari Jum’at. Tidak berlebihan bila penulis mengajak kita sekalian untuk menyambut dua tahun baru kali ini sebagai media bermuhasabah dan refleksi diri. Sebelum lebih lanjut, kita harus catat bahwa kita memiliki banyak cara dan media untuk menginstropeksi diri kita, tidak hanya tahun baru. Ada banyak cara seperti memaksimalkan ibadah di bulan Ramadhan, melakukan shalat tahajud, sharing dengan orang terdekat dan lain-lain. Namun penulis yakin bahwa semakin banyak media untuk berinstropeksi diri, maka akan semakin baik pula keseharian kita dalam melangkah. Pada dasarnya tidak ada hal yang perlu dianggap spesial pada tahun baru tapi lebih baik jika menjadikannya sebagai momentum pembenahan diri. Kurang tepat jika tahun baru dijadikan momen hura-hura dan berkumpul hingga pagi seperti halnya yang terjadi di masyarakat kita.
Berbicara mengenai akhir tahun dan awal tahun penulis mencoba mengaitkan  dengan sebuah kata “kesempatan”. Sebuah akhir merupakan sebuah penghujung. Sebuah ujung merupakan sebuah penutup. Di sana terselip satu kata “kesempatan” yang barangkali telah hilang atau lewat karena telah bertemu dengan sebuah tutup atau ujung. Kesempatan tadi akan hilang dan tidak bisa terulang jika telah berakhir. Begitu juga dengan kata awal sangat erat kaitannya dengan kata “kesempatan”. Sebuah awal adalah sebuah pijakan. Sebuah pijakan adalah sebuah tonggak pertama. Sebuah tonggak pertama erat sekali dengan sebuah semangat. Sebuah semangat akan memunculkan begitu banyak kesempatan dalam melangkah. Sebuah langkah baru selayaknya berukur kepada apa yang telah dilewati sebelumnya dengan tujuan semoga kesalahan yang telah terjadi tidak terulang di hari mendatang.
Manusia di beri kelebihan pikiran yang bertujuan untuk mengoreksi dan menelaah segala hal yang ada. Manusia mengerti bahwa waktu akan selalu datang maka dari itu muncullah koreksi secara naluriah. Untuk lebih sederhana, penulis ibaratkan antara kemarin dan besok. Penentuan apa yang akan dikerjakan pada hari esok tentunya berpatokan kepada apa yang telah dilakukan kemarin. Apa yang telah terjadi kemarin tidak akan pernah bisa dikembalikan lagi. Apa yang terjadi kemarin hanyalah sebuah cerita ataupun sejarah dari apa yang telah kita lakukan. Peristiwa ataupun rentetan episode pada hari kemarin hanya bisa dijadikan sebagai sebuah pembelajaran ataupun peringatan untuk dibenahi namun mutlak tidak bisa di rubah dan di koreksi. Apa pencapaian dan prestasi kita pada hari kemarin sebaiknya coba untuk di ulangi dan apa kesalahan kita kemarin sebaiknya jangan pernah diulangi lagi pada hari esok. Hari esok menjadi hari penuh rencana dengan semangat yang harus lebih baik. Maka dari itu muncullah statement refleksi atau instropeksi diri guna mempersiapkan kegiatan untuk besok yang lebih baik.
Pribadi yang selalu bermuhasabah
Sebuah ayat dari Al Qur’an yang berbunyi …Wal tanzhur nafsun maa qaddamat li ghad…Hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esoknya (Al Hasyr: 18) menegaskan bahwa kita diperintahkan untuk melihat apa yang telah kita lakukan dan kemudian dijadikan sebagai patokan kita untuk melangkah di kemudian hari. Kita harus memperhatikan segala hal yang telah kita lakukan sebelumnya dengan tujuan untuk berbenah menjadi lebih baik dan lebih berhati-hati dalam setiap langkah. Jika diijinkan, penulis akan menyebutnya sama persis dengan judul di atas yaitu melihat sejarahmu untuk masa depanmu.
Cara yang bermanfaat untuk memaknai tahun baru adalah dengan menjadikan tahun baru sebagai titik utama untuk melakukan instropeksi diri, cerminan diri dan refleksi dari jejak yang sudah kita tinggalkan pada tahun sebelumnya dan kemudian disusul dengan rencana ke depan dengan kepadatan agenda perbaikan yang strategis dan arif. Kita sepakat bahwa untuk memperbaiki sebuah kaum harus dimulai dari setiap individu dalam suatu kaum tersebut. Maka tahun baru selayaknya dijadikan momen untuk menegur diri kita sendiri dan memperbaiki segala kelemahan dan kekurangan kita pada tahun sebelumnya dengan harapan perbaikan ini akan berdampak kepada  diri untuk lebih optimis dengan kehidupan lebih baik di masa yang akan datang.
Sering kali kita begitu mudahnya menebar petuah dan nasehat kepada sahabat dan saudara kita, namun menjadi begitu sulit ketika kita harus berkaca kepada diri sendiri. Pembenahan dan pembinaan diri merupakan keniscayaan ditengah keringnya ruhiyah agama dan sangat disayangkan hal tersebut sering dilupakan. “Gajah dipelupuk mata tak terlihat, semut diseberang lautan terlihat jelas” kiranya tepat untuk mengumpamakan kehidupan kita.  Nasihat dan bimbingan bertaburan dimana-mana, namun sering kali diri sendiri jadi terlupakan. Lupa untuk mempersiapkan bekal ketika kita mati nanti. Dengan mudah menasehati seseorang namun berat berbuat jujur kepada diri sendiri. Seringkali memprotes dan menelanjangi orang lain namun tidak pernah terlintas niat untuk berkaca diri sebelum mengkritisi. Berulang-ulang melakukan cuci tangan kemudian melemparkan kesalahan kepada orang lain. Fenomena tersebut merupakan sebuah kisah nyata yang terjadi saat ini. Maka dari itu salah satu solusinya adalah dengan selalu menginstropeksi diri kita sendiri.
Reflesi diri tidak hanya menjadikan kita lebih berhati-hati dalam setiap langkah kita namun juga akan menjadikan kita seorang manusia yang penuh dengan rencana ke depan. Di sisi lain, kita juga akan lebih bersukur dengan keadaan kita sekarang karena selau melihat apa yang telah terjadi.  Ketika kita mencoba merefleksi apa yang telah terjadi maka kita akan menyadari bahwa kita begitu beruntung karena masih di beri kesehatan tanpa kekurangan apapun. Kita masih tetap tinggal dengan sanak keluarga kita tanpa ada kekurangan juga.  Namun tidak sedikit saudara kita memiliki kehidupan yang kontras dan menyedihkan di tahun ini jika dibandingkan tahun sebelumnya. Bencana alam yang terjadi dan mengakibatkan kehilangan sanak saudara dan depresi mental kepada setiap korban yang selamat. Tidak menutup kemungkinan apa yang terjadi pada saudara-saudara kita bisa menimpa kita semua.

Maka momentum “dua tahun baru” ini seyogyanya jangan diperlakukan berlebihan sehingga menimbulkan dampak yang tidak baik seperti keluar malam hingga pagi hanya untuk menyambut tahun baru dan berkumpul dan berhura-hura dengan teman namun dijadikan sebagai salah satu media kita untuk selalu melihat dan mengoreksi sejarah kita guna mempersiapkan masa depan yang lebih baik dengan penuh optimisme hidup. Sebuah pembenahan akan mudah jika semua individu berniat melakukannya. Dimulai dari satu individu dan kemudian diikuti oleh keluarganya, InsyaAllah akan berdampak pula kepada tetangga dan orang-orang yang ada dilingkungannya dengan harapan dampaknya akan dirasakan pada jumlah masyarakat yang besar. Dimulai dari individu kemudian keluarga dan terakhir lingkungan, semoga pembenahan kepada diri sendiri akhirnya akan menjadikan kualitas hidup kita menjadi lebih baik dan terciptalah sebuah kehidupan yang damai dan tentram. Sebagai penutup, momentum tahun baru sebaiknya disikapi sewajarnya dan kita harus bisa menyaring segala sari yang ada di dalamnya dan mempersembahkan segala kebaikan itu untuk ditanam di dalam pribadi, keluarga dan masyarakat. Ayo kita mulai dari hari ini bersama-sama!

Saturday, December 24, 2016

Gerakan Membawa Tumbler



Oleh Delta Rahwanda


Siapa yang tidak suka jalan-jalan?
Tentu saja kita semua suka jalan-jalan. Namun sadarkah kita ketika semakin banyak pengunjung datang ke suatu lokasi tertentu maka potensi kerusakan/ kotor lokasi tersebut semakin besar. Tempat yang tadinya bersih bisa menjadi kotor seiring dengan banyaknya pengunjung yang datang. Tentu sebagai seseorang yang senang jalan-jalan, kita harus mengerti dan mawas terhadap masalah ini. Ada sebuah solusi yang sederhana yang telah kami lakukan untuk mengurangi sampah dan tentu membantu menjaga keasrian lingkungan. Karena sederhana, hal ini seringkali dilupakan. Solusi yang telah kami lakukan dan laksanakan sejak lama adalah dengan membawa tumbler/ botol minum kemanapun kami bepergian baik jalan-jalan, traveling, kuliah, sekolah, bekerja dan lain-lain. 

Mengapa tumbler?
Pertanyaan ini mungkin muncul di benak anda dan apa kaitan penggunaan tumbler dengan kebersihan lingkungan. Jika kita telaah sekilas saja barangkali cara ini tidaklah berhubungan dengan kebersihan lingkungan. Namun ternyata cara ini merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap kebersihan lingkungan sekitar kita khususnya dalam hal mengurangi sampah plastik yang menjadi salah satu masalah utama di setiap kota besar. Sampah plastik sangat sulit terurai sehingga menjadi faktor utama penyebab banjir dan masalah lingkungan lainnya. Sampah tersebut juga menjadi sumber bahaya di lautan karena faktanya setiap sampah plastik umumnya selalu menuju lautan dan akan semakin menjadi masalah ketika telah berkumpul di lautan. Pernah mendengar pulau yang terbentuk oleh sampah di samudra Pasifik yang besarnya bisa melebihi pulau Madura? Pulau ini hampir semuanya terbentuk oleh plastik. Tentu saja sampah ini sangat berbahaya untuk hewan-hewan yang mengira plastik tersebut adalah makanan mereka. Sudah banyak data menjelaskan bahwa banyak sekali hewan dan ikan yang mati seperti anjing laut, penyu, walrus, lumba-lumba, burung dan beberapa hewan lainnya. Secara garis besar bahwa sampah plastik menjadi sumber utama permasalahan lingkungan di kota adalah fakta yang tidak bisa dibantah lagi.

Dengan selalu membawa tumbler merupakan salah satu solusi efektif dalam mengurangi masalah ini. Sebuah penelitian pernah menjelaskan bahwa seorang manusia membuang sebanyak 167 botol minum kemasan setiap tahunnya. Sebuah angka yang sangat fantastis bukan? Bayangkan jika kita hitung saja jumlah manusia sebanyak 2 milyar (Saat ini jumlah penduduk 6 milyar) yang membuang botol minum maka jumlah yang didapat adalah 334 milyar botol setiap tahun. Tidak terbayangkan oleh saya seberapa besar gugusan plastik tersebut jika dikumpulkan menjadi satu!

Dengan cara yang sangat sederhana ini ternyata kita telah menjadi sosok yang aktif dalam menjaga lingkungan kita. Artinya bahwa kita tidak lagi membuang botol minum karena kita selalu membawa tumbler sendiri yang bisa kita pakai berulang-ulang.
Manfaat menggunakan tumbler:
1.      Membantu mengurangi penggunaan botol minum kemasan.
2.      Sehat karena kita selalu mengerti kualitas air minum kita.
3.      Lebih hemat karena kita tidak perlu membeli air minum kemasan.
4.      Aman dipakai berulang-ulang.
5.      Bisa digunakan untuk air dingin dan panas.

Jadi bagi para sahabat sekalian, jika kalian peduli dengan lingkungan maka salah satu langkah awal yang kalian bisa lakukan adalah dengan selalu membawa tumbler sendiri. Kemudian selanjutnya adalah menginformasikan kepada sahabat dan keluarga kalian mengenai solusi ini. Semakin banyak orang yang melakukan maka akan semakin massive dampak yang dirasakan.



Wednesday, November 30, 2016

ADHA/ ODHA Memiliki Hak yang Sama



Oleh Delta Rahwanda
                


Refleksi hari AIDS Sedunia
Satu Desember adalah waktu di mana Hari AIDS Sedunia diperingati setiap tahun. Salah satu tujuannya adalah untuk memberi support kepada mereka yang terkena penyakit ini. Alasan lainnya adalah menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat bahwa penderita AIDS tidak boleh dikucilkan namun tetap diperlakukan sebagai manusia pada umumnya. Satu Desember bukan suatu perayaan melainkan peringatan akan kewaspadaan dan meningkatkan kesadaran untuk pencegahan terhadap sindrom penurunan sistem kekebalan tubuh akibat infeksi virus yang diberi nama Human Immune Deficiency Virus yang tenar dengan singkatan HIV.
Hari AIDS Sedunia pertama kali dicetuskan pada Agustus 1987 oleh James W. Bunn dan Thomas Netter, dua pejabat informasi masyarakat untuk Program AIDS Global di Organisasi Kesehatan Sedunia di Geneva, Swiss. Bunn dan Netter menyampaikan ide mereka kepada Dr. Jonathan Mann, Direktur Program AIDS Global. Dr. Mann menyukai konsepnya, menyetujuinya, dan sepakat dengan rekomendasi bahwa peringatan pertama Hari AIDS Sedunia akan diselenggarakan pada 1 Desember 1988.Bunn menyarankan tanggal 1 Desember untuk memastikan liputan oleh media berita barat, sesuatu yang diyakininya sangat penting untuk keberhasilan Hari AIDS Sedunia  (Sumber: Wikipedia).

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) atau syndrome penurunan kekebalan tubuh adalah infeksi yang disebabkan oleh virus yang disebut HIV (Human Immunodeficiency Virus). Penyakit HIV/AIDS merujuk pada keadaan seseorang yang tidak lagi memiliki sistem kekebalan tubuh sehingga berbagai macam penyakit dapat menyerang dan sangat sulit untuk disembuhkan. Hampir semua penderita AIDS berakhir dengan kematian, karena hingga saat ini penyakit AIDS belum ada obatnya. Penyakit AIDS, telah dikenal publik sejak Tahun 1981. Ketika itu, walaupun asal-usul HIV terletak di Afrika, Amerika Serikatlah yang pertama kali menyadarkan publik kalau ada penyakit baru yang menyerang sistem kekebalan tubuh penderitanya dan penyebarannya sangat cepat. Namun peringatan Hari AIDS Sedunia sendiri, baru dikampanyekan mulai Tahun 1988. Semenjak itulah, Tanggal 1 Desember dikampanyekan sebagai Hari AIDS Sedunia. Pada Tahun 1996, program bersama PBB untuk HIV/AIDS (UNAIDS) mulai bekerja dan mengambil alih perencanaan dan promosi Hari AIDS Sedunia. Badan baru ini tidak hanya memusatkan perhatian pada satu hari saja, tetapi juga menciptakan Kampanye AIDS Sedunia pada 1997 untuk melakukan komunikasi, pencegahan dan pendidikan sepanjang tahun. Sejak dibentuknya hingga 2004, UNAIDS memimpin kampanye Hari AIDS Sedunia, memilih tema-tema tahunan melalui konsultasi dengan organisasi-organisasi kesehatan global lainnya. Dan pada Tahun 2004, Kampanye AIDS Sedunia menjadi organisasi independen.

Memiliki hak yang sama
Peringatan terhadap Hari AIDS Sedunia mestinya dimaksudkan untuk menjadi momentum yang terlihat dan teringat yang bukan sekedar melemparkan slogan tetapi juga memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat secara umum. Bukan saja membuat even-even yang beraroma perayaan. Saya yakin seseorang yang baru saja terdiagnosis tak akan merayakan keadaannya, bahkan tragis bisa terjadi keadaan dramatis yang bertendensi ingin segera mati daripada disebut ODHA.
Masyarakat kita secara umum masih percaya dengan mitos bahwa AIDS mudah menular dengan cara apapun, salah satunya jabat tangan. Hal ini merupakan sebuah mitor yang beredar luas namun merupakan sebuah kesalahan. Virus HIV adalah virus yang sangat lemah jika terpapar di luar udara jadi sangat kecil kemungkinan kita akan tertular dengan cara seperti jabat tangan, bersentuhan, mengusap bagian tubuh, menggunakan handuk yang sama dan lain-lain. Jadi perlakukanlah mereka sewajarnya seperti kita memperlakukan sahabat atau saudara kita secara umum. 

Ruang Jingga berbagi dengan ADHA dan ODHA
Tanggal 26 November yang lalu, komunitas sosial Ruang Jingga melaksanakan gelaran yang ke-8 untuk gerakan #1000tumblers4lpg. Gelaran kali ini terbilang spesial karena baru pertama kali kami tidak melaksanakannya di sekolah namun di sebuah sekretariat yang bangunannya sebesar rumah sederhana. Pertama kalinya juga kami mengadakannya pada sore hari karena selama ini setiap gelaran diadakan pada pagi hingga siang. Spesial, karena gelaran kali ini sekaligus perayaan ulang tahun Ruang Jingga yang pertama. Lebih spesialnya lagi adalah kami bisa melaksanakan gelaran ke-8 bersama para ADHA sehingga membuat kami lebih dekat dengan mereka. 

Tidak ada perbedaan yang saya rasakan dari mereka ketika bertemu saat pertama kali. Semua terlihat normal dan sehat. Mereka nampak ceria dan bahagia khas anak-anak. Bagi saya mereka tidaklah anak yang sedang “sakit”. Vinna sekalu koordinator yang juga sempat membintangi sebuah film dokumenter mengenai kehidupan ODHA menjelaskan bahwa mereka ingin diperlakukan sama seperti orang pada umumnya dan tidak dikucilkan. “Itu yang sering saya alami” ujarnya. “Kami yang sudah dewasa bertugas menjelaskan kepada anak-anak kami mengenai status mereka. Mereka belum tahu apa-apa. Kami punya kewajiban menyiapkan mental mereka untuk menghadapi masa depannya” Tambah Vinna.

Rundown acara akhirnya dapat kami laksanakan sebaik-baiknya dan berjalan normal tanpa kendala. Semua anak-anak terlihat senang dan bahagia dengan botol minum baru, bingkisan dan sekotak kue dari kami. Semoga kecerian mereka akan selalu ada setiap hari. Semoga mereka tumbuh sehat sebagaimana anak-anak lainnya. Semoga mereka menjadi generasi penerus bangsa yang hebat. Semoga Tuhan memberi mukjizat kepada mereka agar disembuhkan. Gelaran ke-8 lebih detail di sini.

Satu Desember sekali lagi bukanlah perayaan yang menghadirkan kata “selamat”. Karena tidak ada satu manusiapun ingin sakit. Semua ingin sehat namun garis hidup yang menentukan. Tinggal bagaimana kita menghargai takdir kita. Satu Desember adalah sebuah dukungan kepada mereka ADHA dan ODHA karena mereka memiliki hak yang sama.

Gelaran-gelaran #1000tumblers4lpg sebelumnya bersama Host Robby Purba / di Pesawaran / di Pulau Rimau Kalianda


Monday, November 28, 2016

Menunggang Yamaha Vixion Menuju Kota Budaya



Oleh: Delta Rahwanda

Berawal dari obrolan bersama beberapa kawan akhirnya Jogjakarta menjadi tujuan touring kali ini. Menentukan tanggal dan waktu adalah bagian tersulit karena kami memiliki waktu libur kerja yang berbeda-beda. Namun setelah perbincangan yang ulet, akhirnya tanggal touring berhasil ditentukan. Rasanya tidak sabar diri ini menunggu momen perjalanan kami. Mengenang empat tahun aku bercengkrama dengan suasana syahdu untuk mengejar mimpi menjadi sarjana. Sebuah tanah istimewa sebagai pusat budaya segala Jawa. Nasi angkringan, kepala ayam goreng terigu, mendoan, burjo dan gudek tetap teristimewa dan terkenang rapi. Dialah Jogjakarta sebuah kota di mana saya selama beberapa tahun pernah menimba ilmu.

Sejak semalam saya sudah tak jenak lagi tidur. Sesekali terbangun lantaran esok hari adalah yang ditungu-tunggu. Dua hari yang lalu motor Vixion sudah saya servis sebagai salah satu persiapan perjalanan ini. Semua perlengkapan telah tersusun pada box motor. Pukul 07.00 kami bertemu di titik kumpul yaitu di halaman parkir musium Lampung. “Bismillah” doa yang terucap sesaat sebelum menarik gas. Perlahan namun pasti kami menuju pelabuhan paling selatan Sumatra, Bakauheni.  Sekitar pukul 11.00 siang kami telah berada di ruang VIP kapal RORO. Momen ini kami manfaatkan untuk beristirahat sembari makan siang. Alunan musik orgen mengiringi aktifitas kami dan para penumpang lainnya.

Titik kumpul di depan musium Lampung

            Malam Pertama
Roda motor perlahan melambat ketika kami memutuskan untuk makan malam di sebuah kota kecil yang berjarak sekitar 8 jam dari Jakarta. Sebenarnya kami sempat berhenti sejenak untuk shalat Ashar di sebuah masjid di pinggiran kota Jakarta. Sembari menikmati makan malam yang sebenarnya sudah tak layak disebut makan malam karena waktu menunjukkan pukul 23.00. “Kata bapak penjual tahu  tadi, ada lapangan dekat sini. Kita bisa mendirikan tenda di sana malam ini” jelas salah satu kawan saya disusul anggukan yang lain pertanda setuju. Jarum speedo menunjuk ke angka 30 km/ jam ketika kami menuju lapangan tersebut. Sesekali saya mendengarkan suara mesin motor. Meski telah berjalan non-stop seharian, saya tidak merasakan perubahan apapun pada mesin motor saya. Dan yang membuat saya lebih terkesan adalah konsumsi bensin yang begitu irit karena sejak pagi hingga malam saya belum mengisi tank motor. Setelah mengunci motor, saya memejamkan mata untuk menyambut esok hari. Saya memilih tidur di depan tenda bersama 3 orang kawan.

Hari kedua
Menuju POM terdekat untuk mengisi bensin sekaligus mandi adalah aktifitas pertama kami. Kemudian mencari spot untuk makan pagi, kami berhenti di sebuah warung makan yang menyajikan menu nasi uduk. Canda dan tawa mengisi sarapan kami. Melaju dan terus melaju untuk semakin dekat dengan tujuan. Berputar dan terus berputar tanpa lelah adalah tugas si roda bundar. Hingga akhirnya sore hari kami sampai di Ring Road kota Jogjakarta dan stang motor langsung saya arahkan menuju Malioboro. Menghabiskan malam di spot ini adalah sebuah kenangan yang sangat berharga dalam hidup kami.

Istirahat sejenak

Hari ketiga
Pagi hari, kami beranjak menuju tenggara. Menuju kota penuh gua surgawi, Gunung Kidul. Tanpa henti dan menuju pasti merambah Pedukuhan Jetis Wetan, Desa Pacarejo. Menuju gua vertikal penuh misteri, Gua Jomblang. Banyak kisah tersimpan di balik gua ini. Dibantu oleh beberapa sahabat yang bertugas kami “dikirim” menggunakan tali menuju dasar gua. Tidak mudah memang.  Tanaman purba tumbuh subur di dasar dan dinding gua. Sangat terasa begitu kecil diri ini ketika tepat menggantung sebelum menyentuh dasar. Bersandar di pohon kecil adalah upaya menenangkan diri sesaat setelah menyentuh dasar gua. Begitu besar dan Indah! Gelap. Iya gelap ketika kaki menuju titik fenomenal gua ini. Kakiku melangkah ragu menuju setiap pijakan khusus yang sengaja dibuat untuk membantu pada pejalan. Samar-samar terdengar suara air mengalir. Semakin jelas semakin jelas. Masih saja gelap. Lalu rintik cahaya samar menyapa. Mata terbelalak ketika bertemu dengan sebuah keindahan ciptaan-Nya. “Light of Heaven” memang kata yang tepat untuknya. Di dalam perut bumi ini, aku hanya mengenal dua warna saja, hitam dan putih. Namun keindahan begitu nyata di depan mata. Lubang berdiameter sepuluh meter tepat di atas kami, menciptakan pijar indah dari cahaya matahari yang mencoba menembus alam dasar gua. Sungai besar dengan air yang jernih dan segar mengalir tanpa henti. Siapa sangka, gunung kidul yang khas dengan kegersangan rupanya menyimpan sumber air yang begitu dahsyat di dalamnya. Sebuah keajaiban luar biasa. Siluet adalah gambar terbaik dari gua ini. Menyusuri aliran sungai sejauh 1 km sudah merupakan sebuah kecukupan buatku. Nyata sudah bahwa dunia bawah memang tak kalah indah. Memandang setiap detail gua adalah caraku untuk mencoba akrab. Semua kurekam dalam memori agar menjadi kenangan indah kelak. Lepas siang hari, kakiku berat melangkah menuju titik pertama kami turun. Berat rasanya mata ini melepas pandang. Kemudian, dengan cara yang sama kami ditarik menuju dunia “atas”.  Bercengkrama dengan warga lokal adalah kemesraan berikutnya. Lemah lembut adalah sebuah khas yang kunikmati dari warga Jogjakarta. Layaklah jika tatakrama di sini menjadi sebuah patokan kebaikan yang berlaku secara umum di masyarakat kita. 

Mengenang kekonyolan masa lalu menjadi topik utama obrolanku dengan seorang sahabat lama semasa kuliah yang menelpon dan ingin bertemu dengan kami. Kami menuju sebuah atraksi kesenian di Candi Prambanan selepas pukul enam sore, Ramayana Balet. Ratusan orang ikut andil dalam setiap episode kisah Hindu ini. Para penari, make up artist, sutradara dan lain-lain kompak dalam kesenian indah ini. Alur cerita yang mudah di cerna menjadi kesan tersendiri buatku yang tak begitu mampu memahami karya seni tari. Pakaian khas Jogja para penari juga menjadi konsentrasiku lainnya. Pernah aku membaca bahwa tarian di Jogjakarta sangatlah banyak jenisnya seperti wayang wong, wayang kulit, wayang tengul, wayang klithik, kethoprak, karawitan dan jathilan“. Dan yang sedang kami saksikan ini barangkali termasuk sendra tari wayang wong. “Semoga semua budaya ini selalu terjaga” gumanku dalam hati. Tepat 22.00, kami melaju motor menuju Pantai Parang Tritis untuk mendirikan tenda di sana. Bintang dan deburan ombak menjadi sahabat kami malam itu. Beberapa kawan terlihat sibuk memeriksa kondisi tunggangan mereka sebelum tidur.
Goa Jomblang
Jalan Malioboro

Hari keempat
Layar putih terbentang dengan beberapa wayang berlakon. Aku hanya menerka-nerka cerita kesenian ini karena tak bisa kumengerti bahasa sang dalang. Namun tetap saja sebuah keindahan buatku. Aku duduk bersebelahan dengan beberapa turis luar negeri yang sudah pasti lebih bingung ketimbang aku. Sesekali aku membingkai interior rumah Joglo tempat kesenian wayang kulit ini berlangsung. Khas, sangat khas dengan budaya Jawa. Malioboro, goa Jomblang, goa Cokro, gunung purba Nglanggeran,  gua Mendep, Kalisuci, candi Prambanan, Ramayana Balet, Wayang Kulit, rumah Joglo, Keraton Jogja, alu-alun dan lain-lain menjadi persinggahan kami kali ini di kota Jogjakarta. Namun keunikan yang kami kunjungi barulah keindahan se-ujung kuku. Masih banyak ratusan destinasi lainnya yang berlokasi di kota indah loh jinawi ini. Jogjakarta, iya benar dia punya segalanya. Kota Sejuta budaya. Kota yang menjadi  kiblat para seniman kita. Batik, tari, makanan khas, penyanyi, pelukis, aktor, ulama semuanya dia punya. Tidaklah berlebihan jika banyak orang menyebut Jogjakarta sebagai  “Urat nadi budaya Jawa”.
 
Malam terakhir di Jogjakarta
Sore harinya kami menuju service center Yamaha untuk memeriksa kendaraan saya. Tidak lebih dari 30 menit, motor saya telah siap kembali membelah aspal pulau Jawa. Malam terakhir ini kami manfaatkan untuk bercengkerama di alun-alun selatan. Tepat pukul 22.00 kami menuju penginapan untuk beristirahat. Melanglang pandang kali ini telah usai. Kamipun telah siap menyusuri jalan di bagian selatan Jawa untuk menuju kembali ke Lampung.