Wednesday, November 30, 2016

ADHA/ ODHA Memiliki Hak yang Sama



Oleh Delta Rahwanda
                


Refleksi hari AIDS Sedunia
Satu Desember adalah waktu di mana Hari AIDS Sedunia diperingati setiap tahun. Salah satu tujuannya adalah untuk memberi support kepada mereka yang terkena penyakit ini. Alasan lainnya adalah menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat bahwa penderita AIDS tidak boleh dikucilkan namun tetap diperlakukan sebagai manusia pada umumnya. Satu Desember bukan suatu perayaan melainkan peringatan akan kewaspadaan dan meningkatkan kesadaran untuk pencegahan terhadap sindrom penurunan sistem kekebalan tubuh akibat infeksi virus yang diberi nama Human Immune Deficiency Virus yang tenar dengan singkatan HIV.
Hari AIDS Sedunia pertama kali dicetuskan pada Agustus 1987 oleh James W. Bunn dan Thomas Netter, dua pejabat informasi masyarakat untuk Program AIDS Global di Organisasi Kesehatan Sedunia di Geneva, Swiss. Bunn dan Netter menyampaikan ide mereka kepada Dr. Jonathan Mann, Direktur Program AIDS Global. Dr. Mann menyukai konsepnya, menyetujuinya, dan sepakat dengan rekomendasi bahwa peringatan pertama Hari AIDS Sedunia akan diselenggarakan pada 1 Desember 1988.Bunn menyarankan tanggal 1 Desember untuk memastikan liputan oleh media berita barat, sesuatu yang diyakininya sangat penting untuk keberhasilan Hari AIDS Sedunia  (Sumber: Wikipedia).

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) atau syndrome penurunan kekebalan tubuh adalah infeksi yang disebabkan oleh virus yang disebut HIV (Human Immunodeficiency Virus). Penyakit HIV/AIDS merujuk pada keadaan seseorang yang tidak lagi memiliki sistem kekebalan tubuh sehingga berbagai macam penyakit dapat menyerang dan sangat sulit untuk disembuhkan. Hampir semua penderita AIDS berakhir dengan kematian, karena hingga saat ini penyakit AIDS belum ada obatnya. Penyakit AIDS, telah dikenal publik sejak Tahun 1981. Ketika itu, walaupun asal-usul HIV terletak di Afrika, Amerika Serikatlah yang pertama kali menyadarkan publik kalau ada penyakit baru yang menyerang sistem kekebalan tubuh penderitanya dan penyebarannya sangat cepat. Namun peringatan Hari AIDS Sedunia sendiri, baru dikampanyekan mulai Tahun 1988. Semenjak itulah, Tanggal 1 Desember dikampanyekan sebagai Hari AIDS Sedunia. Pada Tahun 1996, program bersama PBB untuk HIV/AIDS (UNAIDS) mulai bekerja dan mengambil alih perencanaan dan promosi Hari AIDS Sedunia. Badan baru ini tidak hanya memusatkan perhatian pada satu hari saja, tetapi juga menciptakan Kampanye AIDS Sedunia pada 1997 untuk melakukan komunikasi, pencegahan dan pendidikan sepanjang tahun. Sejak dibentuknya hingga 2004, UNAIDS memimpin kampanye Hari AIDS Sedunia, memilih tema-tema tahunan melalui konsultasi dengan organisasi-organisasi kesehatan global lainnya. Dan pada Tahun 2004, Kampanye AIDS Sedunia menjadi organisasi independen.

Memiliki hak yang sama
Peringatan terhadap Hari AIDS Sedunia mestinya dimaksudkan untuk menjadi momentum yang terlihat dan teringat yang bukan sekedar melemparkan slogan tetapi juga memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat secara umum. Bukan saja membuat even-even yang beraroma perayaan. Saya yakin seseorang yang baru saja terdiagnosis tak akan merayakan keadaannya, bahkan tragis bisa terjadi keadaan dramatis yang bertendensi ingin segera mati daripada disebut ODHA.
Masyarakat kita secara umum masih percaya dengan mitos bahwa AIDS mudah menular dengan cara apapun, salah satunya jabat tangan. Hal ini merupakan sebuah mitor yang beredar luas namun merupakan sebuah kesalahan. Virus HIV adalah virus yang sangat lemah jika terpapar di luar udara jadi sangat kecil kemungkinan kita akan tertular dengan cara seperti jabat tangan, bersentuhan, mengusap bagian tubuh, menggunakan handuk yang sama dan lain-lain. Jadi perlakukanlah mereka sewajarnya seperti kita memperlakukan sahabat atau saudara kita secara umum. 

Ruang Jingga berbagi dengan ADHA dan ODHA
Tanggal 26 November yang lalu, komunitas sosial Ruang Jingga melaksanakan gelaran yang ke-8 untuk gerakan #1000tumblers4lpg. Gelaran kali ini terbilang spesial karena baru pertama kali kami tidak melaksanakannya di sekolah namun di sebuah sekretariat yang bangunannya sebesar rumah sederhana. Pertama kalinya juga kami mengadakannya pada sore hari karena selama ini setiap gelaran diadakan pada pagi hingga siang. Spesial, karena gelaran kali ini sekaligus perayaan ulang tahun Ruang Jingga yang pertama. Lebih spesialnya lagi adalah kami bisa melaksanakan gelaran ke-8 bersama para ADHA sehingga membuat kami lebih dekat dengan mereka. 

Tidak ada perbedaan yang saya rasakan dari mereka ketika bertemu saat pertama kali. Semua terlihat normal dan sehat. Mereka nampak ceria dan bahagia khas anak-anak. Bagi saya mereka tidaklah anak yang sedang “sakit”. Vinna sekalu koordinator yang juga sempat membintangi sebuah film dokumenter mengenai kehidupan ODHA menjelaskan bahwa mereka ingin diperlakukan sama seperti orang pada umumnya dan tidak dikucilkan. “Itu yang sering saya alami” ujarnya. “Kami yang sudah dewasa bertugas menjelaskan kepada anak-anak kami mengenai status mereka. Mereka belum tahu apa-apa. Kami punya kewajiban menyiapkan mental mereka untuk menghadapi masa depannya” Tambah Vinna.

Rundown acara akhirnya dapat kami laksanakan sebaik-baiknya dan berjalan normal tanpa kendala. Semua anak-anak terlihat senang dan bahagia dengan botol minum baru, bingkisan dan sekotak kue dari kami. Semoga kecerian mereka akan selalu ada setiap hari. Semoga mereka tumbuh sehat sebagaimana anak-anak lainnya. Semoga mereka menjadi generasi penerus bangsa yang hebat. Semoga Tuhan memberi mukjizat kepada mereka agar disembuhkan. Gelaran ke-8 lebih detail di sini.

Satu Desember sekali lagi bukanlah perayaan yang menghadirkan kata “selamat”. Karena tidak ada satu manusiapun ingin sakit. Semua ingin sehat namun garis hidup yang menentukan. Tinggal bagaimana kita menghargai takdir kita. Satu Desember adalah sebuah dukungan kepada mereka ADHA dan ODHA karena mereka memiliki hak yang sama.

Gelaran-gelaran #1000tumblers4lpg sebelumnya bersama Host Robby Purba / di Pesawaran / di Pulau Rimau Kalianda


Monday, November 28, 2016

Menunggang Yamaha Vixion Menuju Kota Budaya



Oleh: Delta Rahwanda

Berawal dari obrolan bersama beberapa kawan akhirnya Jogjakarta menjadi tujuan touring kali ini. Menentukan tanggal dan waktu adalah bagian tersulit karena kami memiliki waktu libur kerja yang berbeda-beda. Namun setelah perbincangan yang ulet, akhirnya tanggal touring berhasil ditentukan. Rasanya tidak sabar diri ini menunggu momen perjalanan kami. Mengenang empat tahun aku bercengkrama dengan suasana syahdu untuk mengejar mimpi menjadi sarjana. Sebuah tanah istimewa sebagai pusat budaya segala Jawa. Nasi angkringan, kepala ayam goreng terigu, mendoan, burjo dan gudek tetap teristimewa dan terkenang rapi. Dialah Jogjakarta sebuah kota di mana saya selama beberapa tahun pernah menimba ilmu.

Sejak semalam saya sudah tak jenak lagi tidur. Sesekali terbangun lantaran esok hari adalah yang ditungu-tunggu. Dua hari yang lalu motor Vixion sudah saya servis sebagai salah satu persiapan perjalanan ini. Semua perlengkapan telah tersusun pada box motor. Pukul 07.00 kami bertemu di titik kumpul yaitu di halaman parkir musium Lampung. “Bismillah” doa yang terucap sesaat sebelum menarik gas. Perlahan namun pasti kami menuju pelabuhan paling selatan Sumatra, Bakauheni.  Sekitar pukul 11.00 siang kami telah berada di ruang VIP kapal RORO. Momen ini kami manfaatkan untuk beristirahat sembari makan siang. Alunan musik orgen mengiringi aktifitas kami dan para penumpang lainnya.

Titik kumpul di depan musium Lampung

            Malam Pertama
Roda motor perlahan melambat ketika kami memutuskan untuk makan malam di sebuah kota kecil yang berjarak sekitar 8 jam dari Jakarta. Sebenarnya kami sempat berhenti sejenak untuk shalat Ashar di sebuah masjid di pinggiran kota Jakarta. Sembari menikmati makan malam yang sebenarnya sudah tak layak disebut makan malam karena waktu menunjukkan pukul 23.00. “Kata bapak penjual tahu  tadi, ada lapangan dekat sini. Kita bisa mendirikan tenda di sana malam ini” jelas salah satu kawan saya disusul anggukan yang lain pertanda setuju. Jarum speedo menunjuk ke angka 30 km/ jam ketika kami menuju lapangan tersebut. Sesekali saya mendengarkan suara mesin motor. Meski telah berjalan non-stop seharian, saya tidak merasakan perubahan apapun pada mesin motor saya. Dan yang membuat saya lebih terkesan adalah konsumsi bensin yang begitu irit karena sejak pagi hingga malam saya belum mengisi tank motor. Setelah mengunci motor, saya memejamkan mata untuk menyambut esok hari. Saya memilih tidur di depan tenda bersama 3 orang kawan.

Hari kedua
Menuju POM terdekat untuk mengisi bensin sekaligus mandi adalah aktifitas pertama kami. Kemudian mencari spot untuk makan pagi, kami berhenti di sebuah warung makan yang menyajikan menu nasi uduk. Canda dan tawa mengisi sarapan kami. Melaju dan terus melaju untuk semakin dekat dengan tujuan. Berputar dan terus berputar tanpa lelah adalah tugas si roda bundar. Hingga akhirnya sore hari kami sampai di Ring Road kota Jogjakarta dan stang motor langsung saya arahkan menuju Malioboro. Menghabiskan malam di spot ini adalah sebuah kenangan yang sangat berharga dalam hidup kami.

Istirahat sejenak

Hari ketiga
Pagi hari, kami beranjak menuju tenggara. Menuju kota penuh gua surgawi, Gunung Kidul. Tanpa henti dan menuju pasti merambah Pedukuhan Jetis Wetan, Desa Pacarejo. Menuju gua vertikal penuh misteri, Gua Jomblang. Banyak kisah tersimpan di balik gua ini. Dibantu oleh beberapa sahabat yang bertugas kami “dikirim” menggunakan tali menuju dasar gua. Tidak mudah memang.  Tanaman purba tumbuh subur di dasar dan dinding gua. Sangat terasa begitu kecil diri ini ketika tepat menggantung sebelum menyentuh dasar. Bersandar di pohon kecil adalah upaya menenangkan diri sesaat setelah menyentuh dasar gua. Begitu besar dan Indah! Gelap. Iya gelap ketika kaki menuju titik fenomenal gua ini. Kakiku melangkah ragu menuju setiap pijakan khusus yang sengaja dibuat untuk membantu pada pejalan. Samar-samar terdengar suara air mengalir. Semakin jelas semakin jelas. Masih saja gelap. Lalu rintik cahaya samar menyapa. Mata terbelalak ketika bertemu dengan sebuah keindahan ciptaan-Nya. “Light of Heaven” memang kata yang tepat untuknya. Di dalam perut bumi ini, aku hanya mengenal dua warna saja, hitam dan putih. Namun keindahan begitu nyata di depan mata. Lubang berdiameter sepuluh meter tepat di atas kami, menciptakan pijar indah dari cahaya matahari yang mencoba menembus alam dasar gua. Sungai besar dengan air yang jernih dan segar mengalir tanpa henti. Siapa sangka, gunung kidul yang khas dengan kegersangan rupanya menyimpan sumber air yang begitu dahsyat di dalamnya. Sebuah keajaiban luar biasa. Siluet adalah gambar terbaik dari gua ini. Menyusuri aliran sungai sejauh 1 km sudah merupakan sebuah kecukupan buatku. Nyata sudah bahwa dunia bawah memang tak kalah indah. Memandang setiap detail gua adalah caraku untuk mencoba akrab. Semua kurekam dalam memori agar menjadi kenangan indah kelak. Lepas siang hari, kakiku berat melangkah menuju titik pertama kami turun. Berat rasanya mata ini melepas pandang. Kemudian, dengan cara yang sama kami ditarik menuju dunia “atas”.  Bercengkrama dengan warga lokal adalah kemesraan berikutnya. Lemah lembut adalah sebuah khas yang kunikmati dari warga Jogjakarta. Layaklah jika tatakrama di sini menjadi sebuah patokan kebaikan yang berlaku secara umum di masyarakat kita. 

Mengenang kekonyolan masa lalu menjadi topik utama obrolanku dengan seorang sahabat lama semasa kuliah yang menelpon dan ingin bertemu dengan kami. Kami menuju sebuah atraksi kesenian di Candi Prambanan selepas pukul enam sore, Ramayana Balet. Ratusan orang ikut andil dalam setiap episode kisah Hindu ini. Para penari, make up artist, sutradara dan lain-lain kompak dalam kesenian indah ini. Alur cerita yang mudah di cerna menjadi kesan tersendiri buatku yang tak begitu mampu memahami karya seni tari. Pakaian khas Jogja para penari juga menjadi konsentrasiku lainnya. Pernah aku membaca bahwa tarian di Jogjakarta sangatlah banyak jenisnya seperti wayang wong, wayang kulit, wayang tengul, wayang klithik, kethoprak, karawitan dan jathilan“. Dan yang sedang kami saksikan ini barangkali termasuk sendra tari wayang wong. “Semoga semua budaya ini selalu terjaga” gumanku dalam hati. Tepat 22.00, kami melaju motor menuju Pantai Parang Tritis untuk mendirikan tenda di sana. Bintang dan deburan ombak menjadi sahabat kami malam itu. Beberapa kawan terlihat sibuk memeriksa kondisi tunggangan mereka sebelum tidur.
Goa Jomblang
Jalan Malioboro

Hari keempat
Layar putih terbentang dengan beberapa wayang berlakon. Aku hanya menerka-nerka cerita kesenian ini karena tak bisa kumengerti bahasa sang dalang. Namun tetap saja sebuah keindahan buatku. Aku duduk bersebelahan dengan beberapa turis luar negeri yang sudah pasti lebih bingung ketimbang aku. Sesekali aku membingkai interior rumah Joglo tempat kesenian wayang kulit ini berlangsung. Khas, sangat khas dengan budaya Jawa. Malioboro, goa Jomblang, goa Cokro, gunung purba Nglanggeran,  gua Mendep, Kalisuci, candi Prambanan, Ramayana Balet, Wayang Kulit, rumah Joglo, Keraton Jogja, alu-alun dan lain-lain menjadi persinggahan kami kali ini di kota Jogjakarta. Namun keunikan yang kami kunjungi barulah keindahan se-ujung kuku. Masih banyak ratusan destinasi lainnya yang berlokasi di kota indah loh jinawi ini. Jogjakarta, iya benar dia punya segalanya. Kota Sejuta budaya. Kota yang menjadi  kiblat para seniman kita. Batik, tari, makanan khas, penyanyi, pelukis, aktor, ulama semuanya dia punya. Tidaklah berlebihan jika banyak orang menyebut Jogjakarta sebagai  “Urat nadi budaya Jawa”.
 
Malam terakhir di Jogjakarta
Sore harinya kami menuju service center Yamaha untuk memeriksa kendaraan saya. Tidak lebih dari 30 menit, motor saya telah siap kembali membelah aspal pulau Jawa. Malam terakhir ini kami manfaatkan untuk bercengkerama di alun-alun selatan. Tepat pukul 22.00 kami menuju penginapan untuk beristirahat. Melanglang pandang kali ini telah usai. Kamipun telah siap menyusuri jalan di bagian selatan Jawa untuk menuju kembali ke Lampung.

Sunday, November 27, 2016

Gelaran ke #8 Gerakan #1000tumblers4lpg oleh Ruang Jingga



Oleh Delta Rahwanda

 
Setahun, sebuah semangat baru
Tepat 21 November tahun lalu (2015), komunitas ini lahir. Tidak terasa, setiap bulan kami menjalankan gerakan #1000tumblers4lpg hingga bertemu lagi dengan November berikutnya. Jumlah tumbler yang kami bagikan belumlah mencapai target namun kami sangat optimis untuk menyelesaikannya tidak dalam waktu yang lama lagi. Bahkan ada rasa optimis bahwa kami bisa melakukan gerakan ini lebih massive. Bukanlah perkara mudah mengawali ini dahulu, namun berkat para pengurus yang luar biasa hebat, pelan namun pasti, kami sedang menuju ke titik sukses. Setahun yang telah berlalu memberikan semangat yang lebih besar dan memberi energi yang kuat bahwa kami bisa melakukannya. Kami yakin, Tuhan Yang Maha Esa tidak lepas membantu kami.

Berbagi dengan ADHA
Seketika teringat dengan wajah anak saya sesaat setelah sampai di Sekretariat ADHA. Saya begitu bersyukur akan kesehatan yang diberikan kepada dia. Menatap mereka satu-persatu adalah hal pertama yang saya lakukan. Mereka anak-anak yang begitu ceria dan terlihat sangat sehat ternyata “dikaruniai” sebuah penyakit yang ditakuti oleh masyarakat dunia. Senyum polos sesekali meluncur dari mereka kepada kami. Sekretariat ini adalah sebuah basecamp yang dibuat khusus bagi mereka anak-anak yang terkena HIV AIDS.  Namun, tidaklah tampak bahwa mereka anak-anak yang “sakit” karena yang saya lihat mereka normal seperti anak-anak pada umumnya. Sekretariat ini dirintis oleh Vinna yang juga berstatus ODHA (Orang dengan HIV AIDS). “Saya membangun ini tujuannya agar orang-orang tidak lagi melecehkan kami. Kami tidak berbahaya dan kami juga tidak mau berstatus seperti ini.” Jelas Vinna kepada saya. Saya semakin terenyuh tatkala mereka begitu ceria mengikuti rangkaian acara yang kami buat. Mereka sangat antusias mendengarkan cerita dari kakak-kakak relawan mengenai fakta sampah plastik. “Anak-anak ini kan belum tahu apa-apa mengenai status mereka. Salah satu tugas kami memberikan penjelasan ini pelan-pelan” tambahnya. 

Sesi icebreaking yang mengundang riuh dan tawa menjadi sesi pertama kami. Ada yang sangat khas dari gelaran kali ini. Kami semua mengenakan topeng baik relawan dan adik-adik ADHA. Tujuannya agar kami tetap menjaga identitas mereka ketika difoto. Kemudian disusul dengan puppet show mengenai fakta sampah plastik yang mengubah suasana menjadi hening. Semua mata tertuju kepada toko-tokoh yang ada di depan mereka. Tucil dan Yooman membuka obrolan pada puppet show kali ini. 

Puppet Show
Kemeriahan di belakang layar Puppet show
Tanya jawab mengenai cerita dari puppet show menjadi sesi wajib berikutnya. “Bagi yang bisa menjawab pertanyaan dari kakak, akan kakak kasih hadiah. Siapa yang mau hadiah?” salah satu relawan memulainya. Semua mengangkat tangan setinggi yang mereka bisa. Setelah memastikan semua mendapatkan tumbler (anak dan orang tua), kami bersama-sama menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun yang khusus ditujukan kepada Ruang Jingga. Sembari bernyanyi, kami membagikan bingkisan dan sekotak roti kepada seluruh adik-adik. Masih terekam dalam memori saya betapa kebahagiaan menyelimuti mereka kala itu. Kebahagiaan yang terbingkai dari para anak-anak ADHA ini. Beberapa di antaranya terbingkai oleh kamera saya. Semoga kalian semua selalu kuat dan sehat. Doa kami menyertai!

Sesi review
Sesi tanya jawab
Relawan dan adik-adik ADHA berpose bersama
Perayaan sederhana ulang tahun Ruang Jingga
 

Wednesday, November 23, 2016

“Every One is a Teacher”



Oleh Delta Rahwanda

Cita-cita merupakan sumber motivasi.
Dia adalah motivator nomer wahid bagi setiap insan.
Banyak sekali film dan buku yang berkisah tentang kekuatan mimpi atau cita-cita. Sebuah alasan mengapa seseorang begitu bersemangat dalam menjalani hidup untuk mengejar apa yang dicita-citakan. Salah satu film yang sangat menginspirasi saya adalah Pursuit of Happiness. Mengisahkan tentang seseorang yang berusaha mencari kerja demi kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya. Banyak hal yang dialami namun sang aktor selalu tegar menjalani. Ada beberapa scenes yang tercatat dalam memory saya tatkala dia (Will Smith) tidak pergi ke toilet ketika jam kerja dan mengurangi waktu makan siang demi mendapatkan waktu kerja yang lebih lama dibandingkan rekan-rekannya. Hingga apa yang telah dilakukannya memberikan hasil seperti yang diharapkan. 

Kelas Inspirasi #3 Lampung
Kekuatan mimpi juga mendorong saya untuk membagikan mimpi-mimpi itu kepada individu lain. Salah satu cara yang membuat saya tertarik untuk terlibat di dalamnya bernama Kelas Inspirasi. Ini adalah kali ke dua saya bergabung di program KI. Kelas Inspirasi melibatkan banyak individu dengan berbagai jenis pekerjaan untuk mengajar dan menjelaskan tentang apa profesi mereka sehari-hari. Dengan harapan, seluruh siswa mengerti bahwa banyak sekali cita-cita yang bisa dipilih ketika mereka dewasa kelak. 

Emilia, salah seorang inspirator
Ekspresi salah satu siswa ketika sesi icebreking
 
Grup 5 di MI Al Ijtihad, Panjang, Lampung
Setelah pembagian kelompok oleh panitia, saya masuk pada kelompok 5 yang berlokasi MI Al Ijtihad. Tepat pukul 06.30 kami bertemu di titik kumpul kemudian bersama-sama menuju sekolah. Kami disambut oleh pada dewan guru dan beberapa siswa. Upacara bendera adalah sesi pertama yang kami ikuti. Upacara bendera ini spesial bagi saya yang tidak pernah mengikuti upacara bendera sejak beberapa tahun yang lalu. Kegiatan ini mengundang memori saya ketika masih duduk di sekolah dasar yang dahulu sering kali terlibat dalam upacara bendera setiap hari senin. Icebreaking, perkenalan dan sambutan menjadi acara berikutnya. Sesaat setelahnya, seluruh siswa masuk ke dalam kelas dan disusul para inspirator. Riuh siswa terdengar sesaat setelah inspirator membuka pertemuan di kelas. Sebagai relawan photographer, saya berkesempatan mengamati aktifitas setiap inspirator yang begitu sempurna menyampaikan profesi mereka. Satu hal yang kemudian tertulis dalam benak saya bahwa “Setiap dari kita adalah seorang guru”.

Delta Rahwanda (Relawan Photographer)